Select Page

Akhirnya,

Semua
ketidakpastian telah ku bunuh….

…….

Hari itu sangat
cerah. Bunga tersenyum bahagia, pohan menari-nari, dan rumput berlarian.

Keindahan-keindahan
itu ku foto semua, dan terekam ke dalam sebuah negatif film. Cklik!

……….

Mereka berdua,
bergandengan tangan.

Fro memakai
kemeja putih, celana berbahan katun putih,

iylda memakai baju berbahan kaos dan rok panjang yang berwarna seputih apa yang
dikenakan fro.

Dengan
bertelanjang kaki, mereka berlari di atas rumput…

……….

Aku tertidur…

…………….

Dengan kamera di
tangan kananku,

Ku abadikan semua
yang kulihat dengan mata.

Dia, mereka, itu,
sesuatu, ini, semua.

……………

Baju putih mereka
mulai basah oleh keringat.

Mereka, bersama,
lelah.

Di bawah pohan,
mereka beristirahat, sambil menyeka keringat mereka…

…………..

Dengan rumput
hijau yang basah oleh embun, pisau ini kubersihkan dari merahnya darah.

Cahaya matahari
memantul dari pisau yang telah mengkilat dan menyilaukan mataku…

…………..

Dibalik bukit, ku
lihat sebuah pemandangan yang begitu luas,

Hamparan rumput
hijau,

Dengan hanya
beberapa pohon besar, seakan menjadi tempat untuk rusa dan kijang beristirahat.

Aku mengintip di
balik viewfinder, mengatur diafragma
ke bukaan terkecil, dan memfokuskan lensa.

Cklik!

……………….

Fro melihat ke
balik pohon, memastikan apakah pria pembawa pisau itu masih mengejar mereka.

Iylda masih
terlihat kelelahan. Napasnya sudah terengah-engah.

Jantung mereka
berdegup kencang

………………..

Dia mengatur
posisi kedua mayat berbaju putih.

Kedua mayat itu
desenderkan pada batang pohon yang besar, tampak sangat nyaman.

Darah seakan
menjadi alas duduk kedua mayat itu.

Kepala kedua
mayat itu diletakkan di atas piring, berhadapan, bersamaan dengan bekal makan
siang yang kedua mayat itu bawa.

Kepala mereka
adalah hidangannya.

………………..

Di ujung
cakrawala, dengan samar kulihat ada cahaya yang memantul dari benda seperti
logam.

Kuganti lensa
kamera Canon 18mm ku dengan lensa tele.

Melalui viewfinder kucoba melihat asal cahaya
itu.

Melalui lensa,
kulihat, ternyata pantulan cahaya itu berasal dari sebuah pisau.

Pisau itu tidak
diam.

Kulihat pisau itu
dipegang oleh seorang pria.

Pisau itu
berayun, menebas leher seorang pria. Darah memerahi rumput hijau dan baju
putihnya.

Didekat mereka,
kulihat seorang wanita. Mulutnya terlihat sedang berteriak panik. Berkeringat,
mencoba untuk menghentika gereakan tangan pria pemegang pisau.

Ku coba melihat
wajah si pemegang pisau..

Ternyata dia
memakai topeng, topeng putih, dengan garis melengkung keatas sebagai simbol
mulut, dan dua buah garis melengkung ke bawah sebagai lambang mata. Seolah si
pemegang pisau tertawa sambil mengiris leher pria berbaju putih itu

Cklik!

Cklik!

Cklik!

Aku mengabadikan
semua, tanpa terlihat, tanpa izin, tanpa suara.

……………………….

Jangan!!!

Hentikan!!!

Apa yang kau mau
dari kami????

Jangan…..!!!!!…………………

Suara wanita itu
menghilang seiring dengan putusnya pita suara karena tertebas oleh pisau

………………………..

Pria itu berlari,

Mengejar sesosok
pasangan berbaju putih

Pisau di tangan
kanan

Mulutnya bernyanyi

I will fly in to your arms

And be with you

Till the end of time

Why are you so far away?

You know it’s very hard for me

To get myself close to you

……………………..

Seonggok daging
itu mulai dikerubungi lalat

Kedua kepala
diatas piring, menatap satu sama lain dengan mata terbelak, penuh dendam.

Tapi tetap,
mereka hanya tinggal mata dalam kepala yang sudah tidak menempel pada tubuhnya
lagi

……………………………..

Aku,

Terdiam,

Kumasukkan kamera
kedalam tas,

Melangkah pulang.

Kamera inlah yang
akan banyak berbicara.

Tidak! Pikirku

Aku akan
membungkam kamera ini,

Karena aku
menyukai apa yang baru saja kulihat.

Akan kucetak besar-besar,
dan akan kutempel di dalam kamar, sebagai penambah koleksi-koleksi ku.

Haha!beruntungnya
aku mendapat tambahan koleksi gambar baru tanpa harus bekerja keras dan
menambah dosa!…

………………………………