subhanallah..seorang perempuan dibalik misi kemanusiaan, untuk memberikan bantuan ke Gaza, Gulden Sonmez. diambil dari sahabatalaqsha.com.

Gulden Sonmez. Foto: Sahabatalaqsha.com & Hidayatullah.com

Gulden Sonmez. Foto: Sahabatalaqsha.com & Hidayatullah.com

Cerita Gulden Sonmez, Muslimah Pemberani di IHH

Sahabat Al-Aqsa & Hidayatullah.com—Di Atas Mavi Marmara di Laut Tengah— Ada seorang perempuan berkacamata, bermantel dan berjilbab hitam, menggendong ransel kecil hitam, dan berkalungkan kafiyeh putih-hitam yang hampir tak pernah tampak duduk diam di antara staff Insani Yardim Vakfi (IHH) dan para peserta kafilah Freedom Flotilla.

Sejak diluncurkannya Mavi Marmara pada Sabtu 22 Mei sampai hari ini, Ahad 30 Mei, hanya sekali staf senior IHH ini memberi pengarahan kepada peserta dan wartawan.

Namun tampak jelas bahwa pemudi-pemudi berjilbab dan tangkas serta pemuda-pemuda tampan dan santun dari IHH itu menghormatinya dan melaporkan segala sesuatunya kepadanya.

Dan ketika semua anggota armada dari berbagai penjuru dunia – termasuk kapal kecil yang membawa para anggota parlemen negara-negara Uni Eropa yang berangkat dari Cyprus –Turki – datang bergabung dengan Mavi Marmara di salah satu titik di Laut Tengah, dialah yang diajak berunding oleh Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim di top deck.

Gulden Sonmez

adalah satu di antara 15 orang anggota dewan eksekutif di organisasi yang memiliki kerja sosial di lebih dari 100 negara ini. Di atas dewan ini adalah Presiden IHH, di bawahnya ada dewan pekerja harian, dan di bawahnya lagi barulah departemen-departemen amal khairiyah IHH.

Sudah lebih dari tujuh tahun Gulden bekerja di IHH. Dia mengawali kerjanya di organisasi kemanusiaan terbesar di Turki ini dengan mendirikan unit-unit khusus perempuan dan anak yatim. Sekarang ini Gulden merangkap sebagai pimpinan atau kepala unit Riset dan Pengembangan di IHH.

Gulden juga seorang pengacara hak asasi manusia yang memiliki rekam jejak kerja yang cukup panjang selama 15 tahun terakhir ini, termasuk dalam kampanye pembebasan korban-korban kekerasan di berbagai tempat serta kampanye antiperang. Lebih dari 20 kali sudah dia maju ke pengadilan dalam upayanya melawan pelarangan berhijab di universitas dan kantor-kantor pemerintah.

Uniknya, Gulden tidak bisa maju sebagai pengacara meskipun dia lulusan Fakultas Hukum Universitas Marmara di Istanbul pada tahun 1985 – justru karena pelarangan berhijab di kantor-kantor pemerintah itu!

“Pada saat-saat seperti itu, saya maju bukan sebagai pengacara tetapi sebagai idarah (manager) kantor Muzlemdar,” tutur Gulden. Muslimah kelahiran tahun 1969 ini sekarang juga menjabat wakil presiden Muzlemdar, organisasi hak asasi terkemuka di Turki.

Gulden adalah salah satu motor penting yang menggerakkan Freedom Flotilla to Gaza ini. Gerak-geriknya di atas Mavi Marmaratak tampak menyolok; dia tidak tampak sedang mencari perhatian para wartawan atau peserta, namun rapat-rapat penting yang tak boleh diganggu wartawan biasanya dihadiri Gulden.

Semangat

Semakin mendekati pantai Gaza, Gulden tampak semakin sibuk. Ketika ditanya bagaimana perasaannya, Gulden tersenyum lebar. “Saya merasa puas. Ini tahap penting bagi Flotilla kita ini. Insya-Allah kita akan menuju titik akhir perjalanan kita ini,” ujarnya. “Saya bersemangat sekali membayangkan betapa pada saat ini begitu banyak penduduk Gaza yang menunggu-nunggu kita di pantai Gaza. Saya membayangkan perjumpaan dengan mereka, dan inilah yang membangkitkan semangat saya!”

Tetapi sudah begitu banyak kabar tentang berbagai skenario Israel untuk menyambut kedatangan Freedom Flotilla termasuk rencananya menangkap warga Israel yang ada di atas Mavi Marmara, menginterogasi dan memenjarakan warga Palestina, mendeportasi semua warga lain dan merebut barang-barang bantuan kemanusiaan yang dibawanya. Bagaimana bila skenario itu berhasil?

“Bahkan bila Israel berhasil memaksa kita kembali sekali pun, ini tetap merupakan tahap vital dalam misi kita mendobrak embargo Israel atas Gaza,” jawab Gulden. “Secara pribadi saya tentu akan merasa sedih, tapi kita akan terus mencoba lagi.”

Gulden mengakui bahwa para penyelenggara Freedom Flotilla di IHH sudah memikirkan berbagai kemungkinan termasuk penangkapan-penangkapan. “Kalau ada yang ditangkap, kemungkinan besar tentu para penyelenggara di IHH,” tuturnya. “Bagaimana kalau saya ditangkap? Secara pribadi saya tidak punya persiapan apa pun kalau ditangkap, tapi IHH sudah pasti akan berusaha untuk tidak membiarkan Israel masuk dan menangkap kita.”

“Pastilah Israel akan mencoba tapi semaksimal mungkin we will fight back…karena kita adalah organisasi sipil!”

Menolong Diri Sendiri

Mengapa Gulden begitu bersemangat membicarakan dan mengkampanyekan perlawanan terhadap embargo dan semua kejahatan Israel atas Palestina dan Gaza? “Karena embargo di Gaza adalah sebuah kejahatan militer dan kita harus melawan,” jawab Gulden.

Dia mengingatkan bahwa saat ini ada ada ribuan orang Palestina yang dipisahkan dari keluarga, dari satu sama lain, oleh tembok yang tinggi. Ada 12 ribu orang Palestina yang menderita di penjara. Sudah ribuan orang Palestina yang mati dibunuh Israel termasuk perempuan dan anak-anak.

“Lalu apakah Anda mengira kita bisa duduk diam saja? Kita ini Muslim. Karena itu kitalah yang harus menghadapi masalah Palestina ini sendiri,” tegasnya. “Dan jangan Anda mengira bahwa Anda sedang menolong Palestina. Yang sebenarnya, kita sedang menolong diri kita sendiri…”

Gulden menunjukkan bahwa ribuan penduduk Palestina di Gaza yang hidup dalam keadaan menderita sebenarnya bisa saja memilih untuk pindah dan hidup nyaman di tempat-tempat lain. “Tapi mereka memilih hidup dalam berbagai resiko, anak-anak mereka dalam bahaya, karena mereka ingin berjuang terus,” tutur Gulden. “Perjalanan kita ini bukan untuk menolong Palestina, tapi untuk menolong kehidupan akhirat kita.”

Tak Takut

Baik di IHH maupun di atas Mavi Marmara ini, Gulden bekerjasama dengan Umit Sonmez, suaminya sendiri. Hanya saja, di IHH, posisi Umit sebagai kepala salah satu amal khairiyah ada di bawah Gulden.

Lalu, apakah karena dia bersama dengan Umit maka dia tampak berani menghadapi berbagai kemungkinan dan ancaman Israel?

Gulden tertawa. “Yog! Tidak. Saya pergi ke Tel Aviv (belum lama ini untuk memperjuangkan pembebasan aktivis IHH Izzet Sahin dari penjara Israel) tanpa suami saya dan Alhamdulillah saya tidak merasa takut.”

Gulden meletakkan tangan kanannya di jantungnya. “Tentu saja Allah tahu isi hati dan niat kita. Aku percaya kepada Allah.”

Sebenarnya pada awalnya Gulden takut pada laut. Mungkin karena dia lahir dan dibesarkan di daerah pegunungan di Siyas – sekitar enam jam perjalanan darat dari Istanbul – sehingga di masa kecil, untuk masuk ke sungai saja pun dia tak berani.

“Tapi sekarang, saya tak takut pada laut.”

Menulis 2000 Surat

Menurut Gulden, kasus kejahatan terhadap hak asasi yang paling berkesan yang pernah ditanganinya adalah kasus kawannya sendiri, Izzet Sahin yang menjadi perwakilan IHH di Tepi Gaza.

Izzet ditangkap dan dipenjarakan oleh Israel selama 21 hari. Selama itu pulalah pria ini dikurung di sebuah sel berukuran tak lebih besar daripada liang kubur. Tanpa cahaya. Dindingnya bercat hitam. Selama 21 hari itu Izzet diborgol dan kedua kakinya dirantai. Pada satu tahapan penyiksaan atas dirinya berupa dipaksa melek dan diinterogasi tanpa henti selama 30 jam lebih – dan kebanyakan hal yang ditanyakan kepadanya adalah berkenaan dengan rencana Freedom Flotilla itu.

“Saya dan rekan saya dari Mazlumder Cihad (Jihad) Gokdemir dan seorang penterjemah berangkat ke Tel Aviv untuk menegosiasikan pembebasan Izzet,” tutur Gulden. “Aku tak akan pernah melupakan detik-detik ketika untuk pertama kalinya Izzet melihat kami di penjara. Aku melihat kebahagiaan di matanya. Di air matanya.”

Menurut Gulden, Izzet ditangkap memang karena dia adalah bagian dari IHH yang telah demikian kritis sikapnya terhadap Israel.

“Kami sadari pada masa itu bahwa kami pun menghadapi resiko. Saya sendiri sudah begitu sering menyampaikan pidato-pidato yang tajam mengenai Israel, dan kami tahu bahwa Israel tahu ini.”

“Tapi Allah lebih tahu dan kami kembali bersama Izzet (ke Istanbul).”

Dalam kampanyenya membebaskan Izzet, Gulden menulis ke berbagai pihak, mulai dari badan intelijen Israel Shin Bett, Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu, SekJen PBB Ban Ki Moon, berbagai organisasi hak asasi manusia internasional di dalam dan di luar Turki, bahkan kelompok-kelompok kemanusiaan yang ada di Israel.

“Saya menulis setidaknya 2000 surat dalam kampanye ini,” tutur Gulden.

IHH membuat website khusus untuk kampanye pembebasan Izzet Sahin yang dalam waktu singkat menerima lebih dari 20.000 surat dukungan bagi upaya mereka.

Hijab is My Belief

Gulden tidak hanya bekerja di dalam negeri Turki dan dalam kasus pelarangan hijab saja, tapi dalam banyak kasus lainnya. Namun khusus mengenai pelarangan berhijab di Turki, Gulden menjadi sangat berapi-api. “Hijab is my belief. Saya sudah bekerja melawan pelarangan ini selama bertahun-tahun, sejak tahun 1997, sampai hari ini, dan belum juga kami berhasil.”

Sampai sekarang, para muhajabah masih dipaksa melepas hijab mereka bila hendak memasuki kampus (tak heran kalau banyak Muslimah Turki yang memilih berkuliah di negeri-negeri lain seperti Malaysia) atau kantor-kantor pemerintah.

“Situasi sulit menghadang gadis-gadis kami. Mereka harus memilih antara kesempatan sekolah dengan iman mereka,” tutur Gulden. “Sudahlah sulit begini, masih saja ada keluarga Turki yang kemudian justru menekan anak-anak perempuan mereka untuk melepas saja hijab mereka.”

Seorang Muslimah berhijab di Turki dengan demikian menghadapi tekanan dari dua sisi – pemerintah, dan keluarganya sendiri. Lalu, ketika bisa bekerja pun, para Muslimah berhijab masih harus menghadapi tekanan lain – mereka harus bekerja jauh lebih berat dan keras daripada kolega pria karena masih adanya diskriminasi terhadap perempuan.

Hanya untuk Allah

Gulden menggambarkan bahwa masa kecilnya di tengah-tengah keluarganyalah yang membentuk semangatnya bekerja untuk ummat. “Sejak kecil pun saya merasa tidak bisa berdiam diri kalau melihat ada yang tidak beres. Mungkin karena itulah saya memilih bekerja sebagai pengacara,” ceritanya. “Dan Turki adalah daerah di mana banyak sekali terjadi kezaliman.”

“Aku bekerja demi keadilan. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana menegakkan keadilan yang ditetapkan Allah. Aku hanya ingin agar Allah ridha dan menerima pekerjaanku ini. Bukan karena uang atau apa pun,” tuturnya. “Mana ada uang di Mazlumder? Orang-orang tertindas yang kami tolong itu justru tidak mampu membayar jasa (bantuan hukum) kami.”

Masih Banyak Kerja Lain

Apa rencana Gulden sesudah Freedom Flotilla? “Terserah nasib yang digariskan Allah kepadaku saja. Kalau saya bisa, tentu saya akan pergi dan pergi lagi ke Gaza sampai embargo Israel ini habis sama sekali.”

Tetapi, masih banyak masalah ummat yang juga harus dihadapi, begitu ujar Gulden. Penyiksaan dan penderitaan yang dihadapi para Muslim Turkistan di China, misalnya, adalah PR bagi Gulden dan seluruh ummat Islam. Muslim di Iraq, di negara-negara Afrika dan di banyak negara lainnya.

“Gaza hanya satu dari banyak kewajiban kita. Kalau kita berhasil di dalam kampanye kita ini, maka kita harus bergerak menangani kewajiban-kewajiban lain di seluruh dunia.”

Apakah Gulden tak berpikir untuk menolong non-Muslim yang juga menderita? “Kami tak membeda-bedakan siapa yang harus ditolong, tapi pada kenyataannya sekarang ini sangat banyak kaum Muslimin yang menderita di berbagai belahan dunia,” ujar Gulden. Dia memberi contoh korban perang yang dilancarkan Amerika Serikat atas Afghanistan dan oleh Russia atas Muslim Chechnya.

“Pada kenyataannya sangat banyak kaum Muslimin yang disiksa oleh orang-orang non-Muslim, jadi wajarlah bila kami memusatkan perhatian menolong kaum Muslimin di seluruh dunia.”

‘Bila Imamku Syahid’

Umit dan Gulden menikah pada tahun 1994 dan sampai sekarang belum memiliki seorang pun anak. Gulden menggambarkan suaminya sebagai supporter utamanya sejak mereka menikah. Sebelumnya, Umit bekerja di sektor lain namun selalu mendukung kegiatan istrinya dalam berbagai kampanye kemanusiaan – sampai kemudian Umit memutuskan bergabung di IHH sebagai salah satu “anak buah” Gulden.

“Dia imam saya, tapi kalau dalam pekerjaan sehari-hari, kami bekerja bahu-membahu,” cerita Gulden. “Terus terang, rasanya lebih sering kami menghabiskan waktu bersama-sama di IHH daripada di rumah. Bahkan sejauh ini sudah empat kali kami mengalami peristiwa ketika kami hanya sempat saling melambaikan tangan di bandara – dia berangkat sementara saya pulang, atau sebaliknya.”

Bagaimana kalau dalam perjalanan ke Gaza ini terjadi skenario terburuk dan Umit tewas?

“Alhamdulillah, syahid Insya-Allah,” jawab Gulden mantap. “Insya-Allah suamiku menuju Cennet (Jannah)…” (Dzikrullah, Santi Soekanto, Surya Fachrizal)

share and enjoy.
Get Adobe Flash player