Archive

Archive for the ‘hikmah’ Category

im

August 7th, 2010 uga No comments

Rabbi,  ya,saya belum pernah mengalami semuanya.

bahkan tidak satupun.

ketika akan membayangkan melakukan semuanya, semua itu terlihat tidak mudah.

penuh dengan aura negatif.  kepesimisan. dan emosi negatif yang tidak perlu.

tidak untuk melakukannya. bahkan untuk membayangkannya saja saya sudah malas.

tidak yakin.

.

tapi Kau lah Yang Maha Pemberi Kekuatan.

Kau yang memberi semua keteguhan hati.

kemantapan pikiran dalam bertindak.

dengan cara Mu sendiri.

.

salahkah aku jika hari ini Kau telah memberitahukan kepadaku, dengan caraMu yang tidak terduga, agar aku yakin untuk melakukan semua itu, tanpa ketakutan, dan dengan optimis? tak perlu takut sendiri, karena akan ada yang selalu menemani?

ah, Rabbi, apapun yang sedang Kau coba beritahu sekarang, kini aku tau apa yang aku butuhkan.

bukan harta yang tak terbatas, bukan fisik yang sempurna, bukan segala sesuatu yang bersifat keduniaan_meskipun aku butuh itu juga.

tapi seperti kataMu, jika aku hanya mengejar dunia saja, maka dunia sajalah yang akan aku dapatkan. sebaliknya, jika aku mencari akhiratMu, maka dengan seizinMu aku akan mendapatkan keduanya. aku yakin itu.

.

doaku akan selalu tetap sama; semoga apa yang telah, sedang, dan akan saya lakukan, dapat membuat diri ini lebih dekat kepada Mu.

oh, mungkin satu doa spesifik lagi akan saya tambahkan,doa salah satu nabiMu.

-di suatu tempat yang saya tidak tau apa namanya.

ssungguhnya aq brlindung kpd Engkau,dr mmohon kpd Engkau ssuatu yg aq tdk mngtahui hakikatnya.

amin.

*doa, harap, dan takdir Mu mungkin sedang bertarung di langit Mu. aku akan terus berusaha. faidza tawakkal ‘alallah.

Categories: hikmah Tags:

kenyataan yang ada

July 22nd, 2010 uga No comments

aku ada.

jangan terbata ketika bercerita.

silahkan kembali membaca tanpa banyak kata,

seperti dulu yang sudah-sudah.

.

kau tau?Allah selalu menjaga.

mimpi yang ada, keinginan yang tercipta, juga segala cara yang akan dilalui dengan penuh makna.

Allah menjaga.

dari segala dosa yang selalu menghadang.

dosa yang tak berwarna juga tak berasa, tapi dosa itu ada dan nyata.

dan Allah menjaga.

.

ya,

berjuta makna yang Allah sembunyikan dari setiap masa.

semoga kita tidak buta untuk melihat semuanya.

Categories: bukan puisi, hikmah Tags:

presiden dari pasar ciroyom dan teman-temannya

July 16th, 2010 uga No comments

presiden dari sebuah terminal

pemusik dari pojokan pasar

calon pilot dari belakang sampah

artis yang bajunya kumal

pengusaha yang cantik

seorang pembelajar yang suka ‘ngelem’

.

itu cita-cita mereka, anak-aak jalanan yang sehari-hari mencari uang dijalan,

bergaul di lingkungan terminal dan pasar,

bertemankan aroma tidak sedap dari tumpukan sampah dan bau asap kendaraan yang menunggu penumpang di terminal.

uang yang mereka dapatkan 10-20ribu sehari.

sebagian mereka gunakan untuk beli sejenis lem aibon, sebagian mereka gunakan untuk beli rokok, sebagian mereka gunakan untuk makan.

penampilan mereka jauh dari bersih.

beberapa ada yang membelah jalanan pasar yang becek dengan tanpa alas kaki.

kulit mereka hitam legam terbakar matahari.

baju mereka entah sudah berapa lama tidak dicuci.

.

tapi ketika ditanya apa cita-cita mereka,

ari,umurnya mungkin sekitar sepuluh tahun, berkata dia ingin menjadi presiden. jika dibandingkan dengan yang lain, terlihat dia memiliki rasa ingin tahu yang besar. segala hal dia tanyakan. harga perlengkapan untuk naik gunung, cerita nabi yusuf, cara shalat, dan lainnya. semoga dia benar-benar akan menjadi presiden nantinya.

ade, dari cimindi, sehingga teman-temannya memanggil ‘ade cimindi’, suka sekali bernyanyi. kangen band, ST12, 9 band, adalah band-band indonesia favorit dia. ketika disodori kamera yang bisa merekam vidio, dia langsung perform. bernyanyi dengan sepenuh hati, sambil memainkan ukulele pinjamannya. ‘saya pengen punya gitar sendiri’ ucapnya sambil menghirup aroma lem.

lain lagi dengan evita yang umurnya kurang lebih sama denga ari. si cantik yang sepertinya anak jalanan termuda, bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha. entah mengapa dia mempunyai cita-cita seperti itu. mungkin dia ingin membantu ibunya yang berjualan di pasar. yang pasti, evita sangat berani mengungkapkan ketidaksukaannya ketika dia diganggu oleh teman-teman lainnya sesama anak jalanan.

.

masih banyak lagi teman-teman ari, ade, dan evita di rumbel ciroyom itu. ada yang bercita-cita menjadi pilot, PM (polisi militer), tentara, artis, dan lainnya.

mereka terbuka akan kedatangan kami yang mereka sebut kakak. mereka tak segan untuk bercerita tentang kegiatan mereka sehari-hari. mengungkapkan apa cita-cita mereka, berapa pacar mereka, berapa penghasilan mereka, keinginan mereka untuk belajar, jumlah lem dan rokok yang mereka habiskan perhari, hingga doa mereka setelah shalat. meski kadang kata-kata kasar keluar dari mulut mereka, kami memakluminya, karena lingkungan mereka yang sudah mendidik mereka seperti itu lebih dulu.

.

Rabbi, meski mereka hanyalah sedikit dari seluruh anak Indonesia, tapi semoga kami bisa membantu mereka untuk menjadi pengharum pasar ciroyom dengan akhlak dan prestasi mereka kelak. Izinkan kami dan bantu kami agar anak-anak jalanan itu bisa meraih cita-cita mereka. amin.

semua ada hikmahnya,kan? :)

June 11th, 2010 uga No comments

ya,saya harus bisa merasakannya

hei, bukan hanya merasakan, tapi juga mengatur.

merasakan semangatnya, juga mengatur keinginan yang meluap-luap.

udah semakin dewasa kan?

harus bisa mengatur, memilah dan memilih mana yang benar.

kapan harus digerakkan, kapan harus berhenti, kapan harus bersemangat dan bersuara kembali.

dulu boleh lah bebas, cepat, tak tertahan. tapi sekarang, udah g bisa.

sekarang udah harus bener-bener peka sama lingkungan sekitar,

denger suara dengan lebih seksama,

gak boleh egois,

dan tetap ritmis. Read more…

Categories: hikmah, musik, my story Tags:

we’re unlimited

June 8th, 2010 uga 2 comments

one ayat that  i like in Al Qur’an is the one which says that Allah wont change the condition of one person,unless that person change his/her self.

i translate it as : we, human, are having unlimited potential. as long as you want to change your self to a better person, then InsyaAllah, Allah will change you too. just dont be affraid to face all of your problem, keep learning somthing, and have a will to change. it’s one of Allah’s promises.

Categories: hikmah Tags:

“Dan jangan Anda mengira bahwa Anda sedang menolong Palestina. Yang sebenarnya, kita sedang menolong diri kita sendiri…”

May 30th, 2010 uga 3 comments

subhanallah..seorang perempuan dibalik misi kemanusiaan, untuk memberikan bantuan ke Gaza, Gulden Sonmez. diambil dari sahabatalaqsha.com.

Gulden Sonmez. Foto: Sahabatalaqsha.com & Hidayatullah.com

Gulden Sonmez. Foto: Sahabatalaqsha.com & Hidayatullah.com

Cerita Gulden Sonmez, Muslimah Pemberani di IHH

Sahabat Al-Aqsa & Hidayatullah.com—Di Atas Mavi Marmara di Laut Tengah— Ada seorang perempuan berkacamata, bermantel dan berjilbab hitam, menggendong ransel kecil hitam, dan berkalungkan kafiyeh putih-hitam yang hampir tak pernah tampak duduk diam di antara staff Insani Yardim Vakfi (IHH) dan para peserta kafilah Freedom Flotilla.

Sejak diluncurkannya Mavi Marmara pada Sabtu 22 Mei sampai hari ini, Ahad 30 Mei, hanya sekali staf senior IHH ini memberi pengarahan kepada peserta dan wartawan.

Namun tampak jelas bahwa pemudi-pemudi berjilbab dan tangkas serta pemuda-pemuda tampan dan santun dari IHH itu menghormatinya dan melaporkan segala sesuatunya kepadanya.

Dan ketika semua anggota armada dari berbagai penjuru dunia – termasuk kapal kecil yang membawa para anggota parlemen negara-negara Uni Eropa yang berangkat dari Cyprus –Turki – datang bergabung dengan Mavi Marmara di salah satu titik di Laut Tengah, dialah yang diajak berunding oleh Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim di top deck.

Gulden Sonmez

adalah satu di antara 15 orang anggota dewan eksekutif di organisasi yang memiliki kerja sosial di lebih dari 100 negara ini. Di atas dewan ini adalah Presiden IHH, di bawahnya ada dewan pekerja harian, dan di bawahnya lagi barulah departemen-departemen amal khairiyah IHH.

Sudah lebih dari tujuh tahun Gulden bekerja di IHH. Dia mengawali kerjanya di organisasi kemanusiaan terbesar di Turki ini dengan mendirikan unit-unit khusus perempuan dan anak yatim. Sekarang ini Gulden merangkap sebagai pimpinan atau kepala unit Riset dan Pengembangan di IHH.

Gulden juga seorang pengacara hak asasi manusia yang memiliki rekam jejak kerja yang cukup panjang selama 15 tahun terakhir ini, termasuk dalam kampanye pembebasan korban-korban kekerasan di berbagai tempat serta kampanye antiperang. Lebih dari 20 kali sudah dia maju ke pengadilan dalam upayanya melawan pelarangan berhijab di universitas dan kantor-kantor pemerintah.

Uniknya, Gulden tidak bisa maju sebagai pengacara meskipun dia lulusan Fakultas Hukum Universitas Marmara di Istanbul pada tahun 1985 – justru karena pelarangan berhijab di kantor-kantor pemerintah itu!

“Pada saat-saat seperti itu, saya maju bukan sebagai pengacara tetapi sebagai idarah (manager) kantor Muzlemdar,” tutur Gulden. Muslimah kelahiran tahun 1969 ini sekarang juga menjabat wakil presiden Muzlemdar, organisasi hak asasi terkemuka di Turki.

Gulden adalah salah satu motor penting yang menggerakkan Freedom Flotilla to Gaza ini. Gerak-geriknya di atas Mavi Marmaratak tampak menyolok; dia tidak tampak sedang mencari perhatian para wartawan atau peserta, namun rapat-rapat penting yang tak boleh diganggu wartawan biasanya dihadiri Gulden.

Semangat

Semakin mendekati pantai Gaza, Gulden tampak semakin sibuk. Ketika ditanya bagaimana perasaannya, Gulden tersenyum lebar. “Saya merasa puas. Ini tahap penting bagi Flotilla kita ini. Insya-Allah kita akan menuju titik akhir perjalanan kita ini,” ujarnya. “Saya bersemangat sekali membayangkan betapa pada saat ini begitu banyak penduduk Gaza yang menunggu-nunggu kita di pantai Gaza. Saya membayangkan perjumpaan dengan mereka, dan inilah yang membangkitkan semangat saya!”

Tetapi sudah begitu banyak kabar tentang berbagai skenario Israel untuk menyambut kedatangan Freedom Flotilla termasuk rencananya menangkap warga Israel yang ada di atas Mavi Marmara, menginterogasi dan memenjarakan warga Palestina, mendeportasi semua warga lain dan merebut barang-barang bantuan kemanusiaan yang dibawanya. Bagaimana bila skenario itu berhasil?

“Bahkan bila Israel berhasil memaksa kita kembali sekali pun, ini tetap merupakan tahap vital dalam misi kita mendobrak embargo Israel atas Gaza,” jawab Gulden. “Secara pribadi saya tentu akan merasa sedih, tapi kita akan terus mencoba lagi.”

Gulden mengakui bahwa para penyelenggara Freedom Flotilla di IHH sudah memikirkan berbagai kemungkinan termasuk penangkapan-penangkapan. “Kalau ada yang ditangkap, kemungkinan besar tentu para penyelenggara di IHH,” tuturnya. “Bagaimana kalau saya ditangkap? Secara pribadi saya tidak punya persiapan apa pun kalau ditangkap, tapi IHH sudah pasti akan berusaha untuk tidak membiarkan Israel masuk dan menangkap kita.”

“Pastilah Israel akan mencoba tapi semaksimal mungkin we will fight back…karena kita adalah organisasi sipil!”

Menolong Diri Sendiri

Mengapa Gulden begitu bersemangat membicarakan dan mengkampanyekan perlawanan terhadap embargo dan semua kejahatan Israel atas Palestina dan Gaza? “Karena embargo di Gaza adalah sebuah kejahatan militer dan kita harus melawan,” jawab Gulden.

Dia mengingatkan bahwa saat ini ada ada ribuan orang Palestina yang dipisahkan dari keluarga, dari satu sama lain, oleh tembok yang tinggi. Ada 12 ribu orang Palestina yang menderita di penjara. Sudah ribuan orang Palestina yang mati dibunuh Israel termasuk perempuan dan anak-anak.

“Lalu apakah Anda mengira kita bisa duduk diam saja? Kita ini Muslim. Karena itu kitalah yang harus menghadapi masalah Palestina ini sendiri,” tegasnya. “Dan jangan Anda mengira bahwa Anda sedang menolong Palestina. Yang sebenarnya, kita sedang menolong diri kita sendiri…”

Gulden menunjukkan bahwa ribuan penduduk Palestina di Gaza yang hidup dalam keadaan menderita sebenarnya bisa saja memilih untuk pindah dan hidup nyaman di tempat-tempat lain. “Tapi mereka memilih hidup dalam berbagai resiko, anak-anak mereka dalam bahaya, karena mereka ingin berjuang terus,” tutur Gulden. “Perjalanan kita ini bukan untuk menolong Palestina, tapi untuk menolong kehidupan akhirat kita.”

Tak Takut

Baik di IHH maupun di atas Mavi Marmara ini, Gulden bekerjasama dengan Umit Sonmez, suaminya sendiri. Hanya saja, di IHH, posisi Umit sebagai kepala salah satu amal khairiyah ada di bawah Gulden.

Lalu, apakah karena dia bersama dengan Umit maka dia tampak berani menghadapi berbagai kemungkinan dan ancaman Israel?

Gulden tertawa. “Yog! Tidak. Saya pergi ke Tel Aviv (belum lama ini untuk memperjuangkan pembebasan aktivis IHH Izzet Sahin dari penjara Israel) tanpa suami saya dan Alhamdulillah saya tidak merasa takut.”

Gulden meletakkan tangan kanannya di jantungnya. “Tentu saja Allah tahu isi hati dan niat kita. Aku percaya kepada Allah.”

Sebenarnya pada awalnya Gulden takut pada laut. Mungkin karena dia lahir dan dibesarkan di daerah pegunungan di Siyas – sekitar enam jam perjalanan darat dari Istanbul – sehingga di masa kecil, untuk masuk ke sungai saja pun dia tak berani.

“Tapi sekarang, saya tak takut pada laut.”

Menulis 2000 Surat

Menurut Gulden, kasus kejahatan terhadap hak asasi yang paling berkesan yang pernah ditanganinya adalah kasus kawannya sendiri, Izzet Sahin yang menjadi perwakilan IHH di Tepi Gaza.

Izzet ditangkap dan dipenjarakan oleh Israel selama 21 hari. Selama itu pulalah pria ini dikurung di sebuah sel berukuran tak lebih besar daripada liang kubur. Tanpa cahaya. Dindingnya bercat hitam. Selama 21 hari itu Izzet diborgol dan kedua kakinya dirantai. Pada satu tahapan penyiksaan atas dirinya berupa dipaksa melek dan diinterogasi tanpa henti selama 30 jam lebih – dan kebanyakan hal yang ditanyakan kepadanya adalah berkenaan dengan rencana Freedom Flotilla itu.

“Saya dan rekan saya dari Mazlumder Cihad (Jihad) Gokdemir dan seorang penterjemah berangkat ke Tel Aviv untuk menegosiasikan pembebasan Izzet,” tutur Gulden. “Aku tak akan pernah melupakan detik-detik ketika untuk pertama kalinya Izzet melihat kami di penjara. Aku melihat kebahagiaan di matanya. Di air matanya.”

Menurut Gulden, Izzet ditangkap memang karena dia adalah bagian dari IHH yang telah demikian kritis sikapnya terhadap Israel.

“Kami sadari pada masa itu bahwa kami pun menghadapi resiko. Saya sendiri sudah begitu sering menyampaikan pidato-pidato yang tajam mengenai Israel, dan kami tahu bahwa Israel tahu ini.”

“Tapi Allah lebih tahu dan kami kembali bersama Izzet (ke Istanbul).”

Dalam kampanyenya membebaskan Izzet, Gulden menulis ke berbagai pihak, mulai dari badan intelijen Israel Shin Bett, Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu, SekJen PBB Ban Ki Moon, berbagai organisasi hak asasi manusia internasional di dalam dan di luar Turki, bahkan kelompok-kelompok kemanusiaan yang ada di Israel.

“Saya menulis setidaknya 2000 surat dalam kampanye ini,” tutur Gulden.

IHH membuat website khusus untuk kampanye pembebasan Izzet Sahin yang dalam waktu singkat menerima lebih dari 20.000 surat dukungan bagi upaya mereka.

Hijab is My Belief

Gulden tidak hanya bekerja di dalam negeri Turki dan dalam kasus pelarangan hijab saja, tapi dalam banyak kasus lainnya. Namun khusus mengenai pelarangan berhijab di Turki, Gulden menjadi sangat berapi-api. “Hijab is my belief. Saya sudah bekerja melawan pelarangan ini selama bertahun-tahun, sejak tahun 1997, sampai hari ini, dan belum juga kami berhasil.”

Sampai sekarang, para muhajabah masih dipaksa melepas hijab mereka bila hendak memasuki kampus (tak heran kalau banyak Muslimah Turki yang memilih berkuliah di negeri-negeri lain seperti Malaysia) atau kantor-kantor pemerintah.

“Situasi sulit menghadang gadis-gadis kami. Mereka harus memilih antara kesempatan sekolah dengan iman mereka,” tutur Gulden. “Sudahlah sulit begini, masih saja ada keluarga Turki yang kemudian justru menekan anak-anak perempuan mereka untuk melepas saja hijab mereka.”

Seorang Muslimah berhijab di Turki dengan demikian menghadapi tekanan dari dua sisi – pemerintah, dan keluarganya sendiri. Lalu, ketika bisa bekerja pun, para Muslimah berhijab masih harus menghadapi tekanan lain – mereka harus bekerja jauh lebih berat dan keras daripada kolega pria karena masih adanya diskriminasi terhadap perempuan.

Hanya untuk Allah

Gulden menggambarkan bahwa masa kecilnya di tengah-tengah keluarganyalah yang membentuk semangatnya bekerja untuk ummat. “Sejak kecil pun saya merasa tidak bisa berdiam diri kalau melihat ada yang tidak beres. Mungkin karena itulah saya memilih bekerja sebagai pengacara,” ceritanya. “Dan Turki adalah daerah di mana banyak sekali terjadi kezaliman.”

“Aku bekerja demi keadilan. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana menegakkan keadilan yang ditetapkan Allah. Aku hanya ingin agar Allah ridha dan menerima pekerjaanku ini. Bukan karena uang atau apa pun,” tuturnya. “Mana ada uang di Mazlumder? Orang-orang tertindas yang kami tolong itu justru tidak mampu membayar jasa (bantuan hukum) kami.”

Masih Banyak Kerja Lain

Apa rencana Gulden sesudah Freedom Flotilla? “Terserah nasib yang digariskan Allah kepadaku saja. Kalau saya bisa, tentu saya akan pergi dan pergi lagi ke Gaza sampai embargo Israel ini habis sama sekali.”

Tetapi, masih banyak masalah ummat yang juga harus dihadapi, begitu ujar Gulden. Penyiksaan dan penderitaan yang dihadapi para Muslim Turkistan di China, misalnya, adalah PR bagi Gulden dan seluruh ummat Islam. Muslim di Iraq, di negara-negara Afrika dan di banyak negara lainnya.

“Gaza hanya satu dari banyak kewajiban kita. Kalau kita berhasil di dalam kampanye kita ini, maka kita harus bergerak menangani kewajiban-kewajiban lain di seluruh dunia.”

Apakah Gulden tak berpikir untuk menolong non-Muslim yang juga menderita? “Kami tak membeda-bedakan siapa yang harus ditolong, tapi pada kenyataannya sekarang ini sangat banyak kaum Muslimin yang menderita di berbagai belahan dunia,” ujar Gulden. Dia memberi contoh korban perang yang dilancarkan Amerika Serikat atas Afghanistan dan oleh Russia atas Muslim Chechnya.

“Pada kenyataannya sangat banyak kaum Muslimin yang disiksa oleh orang-orang non-Muslim, jadi wajarlah bila kami memusatkan perhatian menolong kaum Muslimin di seluruh dunia.”

‘Bila Imamku Syahid’

Umit dan Gulden menikah pada tahun 1994 dan sampai sekarang belum memiliki seorang pun anak. Gulden menggambarkan suaminya sebagai supporter utamanya sejak mereka menikah. Sebelumnya, Umit bekerja di sektor lain namun selalu mendukung kegiatan istrinya dalam berbagai kampanye kemanusiaan – sampai kemudian Umit memutuskan bergabung di IHH sebagai salah satu “anak buah” Gulden.

“Dia imam saya, tapi kalau dalam pekerjaan sehari-hari, kami bekerja bahu-membahu,” cerita Gulden. “Terus terang, rasanya lebih sering kami menghabiskan waktu bersama-sama di IHH daripada di rumah. Bahkan sejauh ini sudah empat kali kami mengalami peristiwa ketika kami hanya sempat saling melambaikan tangan di bandara – dia berangkat sementara saya pulang, atau sebaliknya.”

Bagaimana kalau dalam perjalanan ke Gaza ini terjadi skenario terburuk dan Umit tewas?

“Alhamdulillah, syahid Insya-Allah,” jawab Gulden mantap. “Insya-Allah suamiku menuju Cennet (Jannah)…” (Dzikrullah, Santi Soekanto, Surya Fachrizal)

Categories: berita, hikmah Tags: , ,

Kisah Sandrina Malakiano Fatah & Metro TV

May 19th, 2010 uga No comments

copas from here

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa “ sebagaimana Islam mengajarkan “ di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup. Read more…

Categories: berita, hikmah Tags: ,

then trust your self! -1-

May 8th, 2010 uga 1 comment

There’s nothing you can do that can’t be done.
Nothing you can sing that can’t be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game.
It’s easy.


ada cerita tentang seorang anak yang amat menyukai selimut birunya. kemanapun dia selalu membawa benda kesayangannya itu, bahkan sampai ke sekolah. dia tak rela jika selimut birunya itu diambil oleh orang lain. jika ada yang mengambil selimutnya itu, maka si anak akan berteriak dan menangis tanpa henti sampai selimut birunya dikembalikan.

selain itu, ternyata si anak juga menggunakan selimut biru itu sebagai ‘gerbang’ baginya agar dia dapat bertemu dengan empat teman khayalannya. dua orang anak puteri, satu naga, dan puteri.ketika ingin berbicara dengan teman khayalannya itu, maka si anak akan menutup mukanya dengan seliut biru tersebut, dan diapun akan mulai berbicara seolah-olah teman khayalannya itu nyata dan ada.

orang tua dari si anak ini tentu merasa khawatir. sang ayah yang sibuk berusaha untuk melepaskan ketergantungan si anak terhadap selimut birunya itu. karena kesibukannya, sang ayah yang tidak sempat bermain dengan anaknya, akhirnya membiarkan anaknya untuk tetap membawa selimut biru kesayangannya kemanapun dia pergi. karena sang ayah berpikir, selimut biru itu mampu membuat anaknya terhibur dan tidak mengganggu dirinya yang tetap sibuk walau telah berada di rumah.

hingga suatu ketika, sang anak harus pergi ke kantor tempat ayahnya bekerja. si anak memperhatikan bagaimana ayahnya bekerja super sibuk. rapat ini, bertemu dengan orang itu, kesini, dan ke sana. si anak mulai merasa bosan karena ditinggal ayahnya bekerja. maka dia pun bermain di dalam ruangan ayahnya. dia menggambar banyak hal di atas kertas kerja ayahnya. mewarnai, menggunting, menulis, semua hal yang bisa dilakukan oleh seorang anak SD. si anak merasa senang. tapi yang dia tidak tahu, ternyata kertas yang dia gunakan untuk berkreasi itu adalah sebuah dokumen penting yang akan digunakan ayahnya untuk rapat siang nanti.

ketika siang menjelang dan sang ayah hendak menggunakan dokumen penting itu, betapa terkejut ia karena ternyata kertas kerjanya telah dicoratcoret dan bolong-bolong. tulisan yang ada di dalam dokumen itu hampir tidak bisa terbaca. kertas-kertas itu kini berwarna-warni dan bolong-bolong. sang ayah pasrah. sang ayah stress karena dia tetap harus presentasi di depan kliennya.

karena sudah tidak ada waktu untuk merestorasi dokumen itu, ditambah tekanan persaingan dari rekan sekantornya, maka si ayah mempresentasikan apa yang ada. ketika di dokumen itu dia lihat gambar pesawat dan burung yang berciuman, maka dia mengatakan bahwa seharusnya dua perusahaan harus bekerja sama. ketika si anak membubuhkan lem warna-warni, maka sang ayah mengatakan bahwa saham suatu perusahaan harus dibeli. dan seterusnya, hingga semua lembar dari dokumen itu terpresentasikan. betapa sangat tidak masuk akal.

setelah presentasi, sang ayah terlihat sangat frustasi. dia pasrah, lunglai, dan bersiap untuk menerima hasil yang terburuk:dipecat dari perusahaan yang sangat dia idam-idamkan sejak dulu. tak berapa lama, sang ayah dipanggil ke dalam ruang atasannya. yang ada di benak sang ayah adalah dia akan segera dipecat.

-to be continued-

Categories: hikmah, musik Tags:

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi Tukang Sapu

April 23rd, 2010 uga No comments

PEKANBARU (RP) – Matahari sudah semakin tinggi di atas Gedung Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Riau di Jalan Gajah, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

Beberapa orang lalu-lalang di kantor tersebut, namun seseorang berseragam dinas yang akhirnya diketahui bernama Jack Lord (30) masih tetap berkutat dengan tangkai sapu dan kain lap untuk membersihkan beberapa lantai ruangan di kantor tersebut.

WARGA Jalan Genteng Perumahan Tampan Permai, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, ini, sebenarnya adalah seorang PNS golongan III A, namun saat bercerita dengan Riau Pos di kantor tersebut dia terkesan malu dan hampir tidak mau mengakui bahwa dia adalah PNS yang pernah menamatkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau (Unri) dengan indeks prestasi kumulatif 3,75.

Kenyataan tentang dirinya adalah seorang sarjana tersebut hampir tenggelam dan tidak terlacak jika sekilas melihatnya, namun Riau Pos terus bertanya tentang siapa diri Jack sebenarnya. Jack Lord kemudian memulai ceritanya bahwa dia sudah menjadi PNS tahun 2002 dalam kualifikasi tamatan SMU pada golongan IIB sebagai pengatur muda tingkat satu.

Pada tingkat ini, Jack mulai bekerja sebagai tenaga cleaning service. Dia setiap harinya harus menyapu lantai dan membersihkan ruangan, mengepel, membersihkan kaca, bahkan membersihkan kakus di kantor tersebut. Namun resminya tercatat pekerjaannya adalah sebagai pengelola kebersihan ruang belajar dan aula kecil.

Saat bercerita itu, suara Jack Mulai lirih, tangan kanannya yang memegang tangkai sapu terlihat bergetar, tarikan napasnya juga terdengar cepat. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca.

Jack mengaku, sambil bekerja, dia berusaha untuk kuliah karena dia juga punya cita-cita menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh orang tua dan keluarganya. Namun sampai Rabu (21/4) kemarin, nasibnya tetap saja sebagai tukang pel lantai LPMP.

Walaupun Jack telah berhasil menamatkan kuliah dan lulus hampir dengan nilai cum laude di universitas negeri terbesar di Riau serta telah melewati proses penyesuaian ijazah, tapi tak ada perubahan dalam pekerjaannya.

‘’Saya sudah pernah protes dan sampai ke Jakarta, namun tetap tidak ada perubahan. Sepertinya mungkin inilah takdir saya, menjadi tukang sapu saja. Saudara saya juga jadi tukang sapu jalan. Berdua bersaudara kami laki-laki yang lulus kuliah seperti dipermainkan nasib, anak yang seharusnya sudah bisa membanggakan orang tuanya, tapi sampai kini hanya jadi tukang sapu,’’ ujar Jack berlinang air mata.

Dia merasa dipermainkan dan ditindas, protes kepada atasannya terus dilakukannya. Malah pernah dia bertanya, apakah memang ada pegawai negeri golongan IIIA sebagai penyapu lantai dalam SK yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tapi waktu terus berlalu, pekerjaan harus tetap dilakukannya, dan tetap tidak ada perubahan.

Dulu saat dia protes ke Jakarta, ditanggapi oleh Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ditandatangani Ir Giri Suryatmana. Oleh Giri, atasannya yang di Pekanbaru disuruh untuk memperbaiki SK sesuai dengan golongan yang ditempati Jack. Atasannya mengakui ada kesalahan dalam pengetikan. Tapi kondisi masih tetap saja sama setelah protes tersebut.

‘’Dengan golongan yang sama, teman-teman duduk dalam ruangan bekerja dengan kertas dan pulpen tapi saya memegang sapu membersihkan lantai. Saya tidak keberatan dengan pekerjaan ini, karena dari dulupun inilah pekerjaan saya tapi apa sesuai dengan yang sudah saya tempuh, percuma saja rasanya saya pernah kuliah,’’ ujar Jack sambil terisak.

Dengan suara lirih sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya, Jack mengatakan, dia mengerti dengan berbagai birokrasi pemerintahan dan berbagai disiplin ilmu pemerintahan serta bagaimana manajemen kepegawaian. Menurutnya, apa yang sedang dijalaninya sekarang ini sangat bertetangan dengan hatinya yang memahami pekerjaan pemerintahan.

Lalu dengan suara lirih dan parau, Jack kemudian bertanya, ‘’Apakah nasib saya ini karena ada kesalahan dari nenek moyang atau orang tua saya dulu sebelum melahirkan saya? Tak sanggup rasanya ditahankan hati tapi saya harus hidup menjalani nasib ini,’’ tanya Jack.

Jack mengaku sedikit kehilangan percaya diri, memasuki umur kepala tiga, dirinya belum menikah. Pernah terpikir dan terasa di hatinya untuk menikahi seorang gadis, tapi kondisinya sebagai seorang tukang sapu membuatnya tidak pernah berani mengungkapkan perasaan pada perempuan pujaan hatinya. ‘’Saya ini tukang sapu, siapa yang akan mau bersuamikan saya ini. Sepertinya tak ada orang tua seorang anak gadis yang mau melepaskan anak gadisnya hidup bersama saya,’’ ujar Jack dalam dialek Melayunya yang kental.

Jack juga menjelaskan, bukan tidak bisa menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan, namun lebih kepada kompetensi keilmuan dan kelaziman di dunia kerja.

‘’Bukan dikarenakan tidak menghargai pekerjaan tersebut. Hanya saja, naif rasanya bila melihat orang dengan golongan yang sama, bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Saya sarjana Ilmu Pemerintahan, saya mengerti tugas pokok dan pekerjaan aparatur pemerintahan, etika birokrasi, pembagian kerja dan kewenangan, kebijakan publik, membuat undang-undang, bahkan ilmu politik dalam pemerintahan. Saya ini mungkin tidak kalah dibandingkan dengan para alumni Sekolah tinggi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang membedakan kami sepertinya hanya nasib saya yang menjadi tukang bersih-bersih ini,’’ ucap salah satu mahasiswa terbaik Unri tahun kelulusan 2003 tersebut dengan mata kembali berkaca-kaca.

‘’Bila dalam ketentuannya memang ada hal yang membenarkan PNS dengan golongan III A bekerja sebagai tenaga kebersihan, bisa saja tugas itu tetap akan diterima sebagai konsekuensi tugas. Hanya saja, jelas hal tersebut bukan sebuah kelaziman di lingkungan pemerintah. Apalagi bila dikaitkan dengan fakta bahwa saat ini pemerintah lebih banyak menggunakan tenaga outsourching untuk mengerjakan tugas pembantu umum perkantoran,’’ sebut Budi Astoto, salah seorang mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan ketik diminta tanggapannya tentang nasib Jack.

Dia mengaku kecewa, karena, secara kualitas, sumber daya manusia seperti Jack Lord harusnya mendapatkan job description yang jelas sesuai dengan kualifikasi ilmu dan kepangkatan yang dimilikinya.

‘’Saya bahkan baru sekali ini mendengar pegawai golongan IIIA bekerja sebagai pembersih ruangan kantor. Karena selama ini tugas itu hanya diberikan pada tenaga tidak terdidik dan tidak terlatih,’’ sebut dia.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan oleh staf pengajar Ilmu Pemerintahan Unri, Saiman Pakpahan SIP MSi yang menyebutkan bahwa hal tersebut pasti terjadi dikarenakan penyusunan Struktur Organisasi Tata Pemerintahan (SOTK) yang tidak clear. Bila penempatan tersebut didasari oleh alasan bahwa tidak ada posisi untuk penempatan pegawai dengan golongan yang setara, harusnya, antar-satuan kerja bisa saling berkoordinasi. Dengan demikian, potensi jajaran tetap sesuai dengan golongan dan tugas pokoknya.

‘’Saya malah melihat hal ini menunjukkan lemahnya sensififitas pimpinan, karena, idealnya, pimpinan bisa melihat potensi bawahan sesuai dengan golongan. Ini baru pertama sekali saya dengar, PNS golongan III A bertahun-tahun menjadi pekerja kasar yang tugasnya membersihkan ruangan. Bisa jadi ini banyak terjadi, tapi, itu merupakan bentuk tidak pekanya pimpinan terhadap potensi yang ada di wilayah kerjanya,’’ sebut dia.

Kata Sulaiman lagi, kalau alasannya adanya sikap suka atau tidak suka, itupun tak bisa jadi ukuran dalam kerja birokrasi, karena, kinerja birokrat diukur bukan berdasarkan aspek personalitas, melainkan profesionalitas bekerja. “Adapunish and reward. Pemimpin tak bisa menilai berdasarkan ukuran suka atau tidak suka, atau aspek kedekatan. Yang kita khawatirkan dalam sistem yang seperti itu, ada pegawai dengan golongan yang lebih rendah, tapi bisa mengerjakan tugas yang harusnya bisa dikerjakan oleh petugas yang mengerjakan pekerjaan kasar tersebut,’’ papar Saiman.

Riau Pos mencoba mengkonfirmasi status Jack ini kepada Kepala LPMP Riau, Zainal, namun dalam keterangan singkatnya Zainal mengaku sedang mengikuti acara dan minta tidak diganggu dahulu.

Kasubag Umum LPMP Riau, Drs Syukhmide Hendri saat ditemui secara terpisah tidak menafikan adanya pekerja dengan tamatan sarjana dipekerjakan sebagai tenaga cleaning service di kantornya. Hanya saja, saat ditanyakan apa dasar penempatan dan pembagian kerja yang digunakan, Syukhmide Hendri berusaha menghindar dengan pergi begitu saja meninggalkan Riau Pos, padahal sebelumnya dia sempat hendak bercerita panjang seputar tugas di LPMP. Sembari berpura-pura memanggil salah seorang pegawai, Syukhmide langsung lari begitu saja.

Diminta Bersabar
Terkait masalah ini, Kepala Dinas Pendidikan Riau, Prof Dr Ir Irwan Effendi mengaku tidak bisa menghakimi lembaga maupun orangnya. Pasalnya, sesuai dengan ketentuan hal tersebut adalah kebijakan pimpinan maunpun lembaga di mana dia bekerja. Selain itu juga, sebagai PNS apapun dia harus siap menghadapinya.

‘’Kita tidak bisa menilai orang dari penilaiannya di akademis. Jika memang dia melangkah dari tamatan SMA dan baru penyesuaian berarti memang ada jenjang untuk itu. masalah apa yang dikerjakannya mungkin kerena belum ada kesempatan saja. Yang jelas dia harus bersabar saja,’’ terangnya saat dihubungi Riau Pos Rabu.

sumber

Categories: hikmah Tags:

[repost] does love need a reason?

March 28th, 2010 uga No comments

yea,sometimes you cant tell some one why you love him/her.you just know it that you love her/him.

and this is the question that i hate : “why do you love me?why you choose me?why?why?why?blablabla…”

cos all the answer that i might have, have a possibility to change or gone, if it is related with some one’s physics.

“karena ini masalah hati”

.

.

repost dari kaskus : Read more…

Categories: bukan puisi, hikmah Tags:
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes